oleh

Angkat Isu Nasional, Inovasi GIAT KI CES Dinilai Layak Masuk Top 30

Luwu Utara — Tim Verifikasi Lapangan (Verlap) Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (KIPP) Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan kembali melakukan penilaian dan verifikasi terhadap inovasi GIAT KI CES (Gigi Anak Sehat Kiat Cegah Stunting), inovasi Dinas Kesehatan Luwu Utara.

Verifikasi lapangan dipusatkan di Posyandu Mawar Desa Mukti Jaya Kecamatan Baebunta Selatan, dengan menghadirkan beberapa masyarakat penerima manfaat atau layanan dari inovasi GIAT KI CES, seperti anak-anak serta para ibu masing-masing.

Ketua Tim Verlap KIPP Sulsel, Widyawati Rusman, mengatakan, kunjungannya ke Posyandu Mawar Desa Mukti Jaya dalam rangka untuk memastikan inovasi GIAT KI CES berjalan dan dilaksanakan sesuai pemaparan proposal inovasi di Makassar beberapa waktu lalu.

“Hari ini kita akan melihat secara langsung bahwa inovasi ini betul-betul dijalankan dan kita juga ingin melihat sejauh mana kebermanfaatan inovasi GIAT KI CES terhadap para penerima manfaat di wilayah ini,” ucap Widyawati di hadapan masyarakat desa yang hadir.

Ia menyebutkan, dari 132 inovasi yang lolos seleksi administrasi dan tahapan presentasi, terpilih 50 inovasi yang wajib di-verlap untuk memastikan apakah inovasi ini layak masuk Top 30 atau tidak. “Kami betul-betul akan menilai sejauhmana manfaat inovasi ini,” terangnya.

Salah satu nilai plus dari inovasi GIAT KI CES, menurut dia, adalah karena inovasi ini mengangkat isu nasional yang sudah menjadi prioritas pemerintah dalam rangka mempercepat penurunan stunting di Indonesia, dengan capaian target 14 persen pada tahun 2024 mendatang.

“Stunting ini memang menjadi isu nasional. Jadi, kita harapkan inovasi ini betul-betul bisa mendukung pemerintah dalam mengendalikan tingkat stunting yang ada di tengah-tengah masyarakat kita,” harap Kabag Tata Laksana Biro Organisasi Pemprov Sulsel ini.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Luwu Utara, Marhani Katma, yang juga ikut hadir dalam kegiatan verlap ini, berharap agar inovasi ini dapat memberikan yang terbaik buat Luwu Utara. Mengingat isu yang diangkat merupakan isu nasional yang menjadi prioritas pemerintah.

“Kita berharap inovasi ini bisa mendapatkan pengakuan dan apresiasi karena dengan begitu inovasi ini dapat dilirik, sehingga kami juga akan terus mengembangkan inovasi ini ke depan, karena persoalan gigi ini memang harus kita urus secara bersama-sama,” jelasnya.

Verlap dihadiri beberapa pejabat sentral di tingkat kecamatan. Selain Kadis Kesehatan bersama Sekretarisnya, serta Kabag Organisasi, kehadiran Camat Baebunta Selatan (Bansel), Kades Mukti Jaya, Babinsa dan Kapolsek setempat makin menambah dukungan atas inovasi ini.

Camat Bansel, Ikhdiani, misalnya. Camat perempuan ini berjanji akan terus bergerak memberikan dukungan terhadap inovasi GIAT KI CES. Mengingat kehadiran inovasi ini terbukti berkontribusi menurunkan stunting di Bansel menjadi posisi 3 terendah di Luwu Utara.

“Kami patut berbangga dengan adanya inovasi ini, dan kami juga berjanji akan tergerak dan menggerakkan, karena yang namanya stunting itu memang harus kita tekan. Tidak ada lagi yang tidak bergerak. Semua harus peduli, bergerak dan menggerakkan,” harap Ikhdiani.

“Kami juga berharap inovasi ini dapat masuk Top 50 KIPP Tingkat Provinsi Sulsel dan dapat lolos ke KIPP Tingkat Nasional mendatang,” tandasnya. Apa yang diharapkan Camat Ikhdiani rupanya setali tiga uang dengan apa yang diharapkan Kades Mukti Jaya, Muhammad Yusuf.

“Stunting ini mesti dikeroyok. Nah, kehadiran GIAT KI CES adalah bukti bahwa semua pihak mulai mengambil peran untuk menuntaskan stunting. Kehadiran inovasi ini tentu melangkapi inovasi sebelumnya seperti ANC Hipnoterapi, Hypnogreen dan Kejar Stunting,” ucap Yusuf.

Untuk itu, kata dia, pemerintah desa dan kecamatan akan mengakselerasi penurunan stunting di Luwu Utara, khususnya di Bansel. “Kami harap ini bisa booming untuk kita kembangkan lebih jauh, karena kami di Mukti Jaya sudah merasakan dampak dari inovasi ini,” pungkasnya.

Sekadar diketahui, Tim Verlap KIPP Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan yang melakukan penilaian di Kabupaten Luwu Utara berjumlah tiga orang. Selain Widyawati Rusman, terdapat pula Rajendra dari Bappelitbangda, serta Marlasari dari Biro Organisasi Pemprov Sulsel. (LH)