oleh

Workshop Champion GALS: Membangun Keluarga Setara dan Aman

-Bisnis-5 views

SEMANGATKARYA.COM, Luwu Utara — Perkumpulan Wallacea, Save the Children, dan PT MARS kembali melaksanakan Workshop Gender Active Learning System (GALS), Kamis (27/11/2025) di Hotel Bukit Indah Masamba. Workshop ini diikuti pasangan champion dan stakeholder pemerintah daerah.

Kegiatan workshop GALS ini diikuti 20 pasangan suami-isteri dari desa-desa pendampingan program. Di mana setiap pasangan diminta untuk berbagi perubahan-perubahan yang terjadi, mulai dari tingkat keluarga, kelompok, hingga ke tingkat desa.

Program Manager dari Save the Children, Bayu Irawan, menyampaikan bahwa workshop ini bertujuan untuk merefleksikan perubahan dari champion (pasangan suami-istri) yang telah dilatih melalui program GrowHer Kakao.

“Perubahan yang dimaksud di sini adalah yang terkait dengan pembagian peran dalam urusan domestik, pengasuhan anak, pengelolaan konflik tanpa kekerasan, dan pengelolaan keuangan yang transparan antarpasangan,” kata Bayu.

Sementara itu, Ketua TP-PKK Kabupaten Luwu Utara, Ny. Misnawati Andi Abdullah Rahim, menyampaikan bahwa pendekatan GALS ini sangat baik, karena setiap keluarga memiliki visi bersama keluarga.

Hanya saja, kata dia, tak sedikit tantangan yang dihadapi. Salah satunya adalah bagaimana para champion ini bisa menyebarkan praktik baik dan menjadi model bagi keluarga lainnya, sehingga GALS menjadi cara terbaik untuk mencegah terjadinya kekerasan dalam rumah tangga, utamanya kekerasan verbal yang jarang disadari.

“Menjalani bahtera rumah tangga ini penuh tantangan, terlebih banyak di antara kita yang memang tidak mempersiapkan atau belajar secara khusus untuk menjadi suami, menjadi istri, serta menjadi orang tua yang baik untuk anak-anak kita,” jelas Misnawati.

Dikatakannya bahwa dengan Workshop GALS ini diharapkan dapat membantu para peserta untuk meningkatkan kapasitas yang lebih baik dalam mengelola rumah tangga, termasuk membangun komunikasi yang saling menghargai antarpasangan.

Sementara Kepala DP3AP2KB, Dr. Agunawan, mengapresiasi apa yang dilakukan Perkumpulan Wallacea, Save the Children, serta PT MARS, yang telah mengawal dan memfungsikan peran dari kelompok Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) serta memampukan keluarga melalui pendekatan GALS.

“Ini merupakan salah satu model terbaik yang perlu juga dikembangkan oleh pemerintah, baik pemerintah desa maupun pemerintah kabupaten, agar sejalan dengan program peningkatan kualitas keluarga,” harapnya.

Pada tahapan diskusi, beberapa peserta menyampaikan pandangan serta pendapat tentang workshop GALS. Salah seorang peserta, Febri dari Desa Pute Mata, mengatakan bahwa pembagian peran yang terjadi saat ini dalam keluarganya sudah lebih setara.

Di mana ia mengatakan bahwa suaminya sudah mengambil beberapa peran yang biasanya dilakukan oleh dirinya sebagai seorang isteri, seperti menjemur pakaian, mengepel lantai dan tugas lainnya yang selama ini identik dengan pekerjaan perempuan.

Dirinya tidak hanya bercerita saja. Apa yang diungkapkannya rupanya diamini oleh suaminya, Hardiansyah. “Dulu, bangun tidur saya hanya duduk-duduk minum kopi, sementara isteri saya sibuk memasak air, menyapu, dan menyiapkan bekal untuk anak sekolah,” ucapnya.

“Sekarang, saya kalau mau minum kopi, bikin sendiri. Ibunya sibuk memasak air, maka saya yang menyapu dan mengepel rumah, serta menjemur pakaian,” sambung Hardiansyah.

Setali tiga uang dengan Alam, peserta dari Desa Sassa, yang menyampaikan bahwa pembagian tugas dan peran dalam mengasuh yang sudah ia terapkan dalam keluarganya, ternyata juga sudah mulai diikuti oleh pasangan lainnya.

“Saudara saya yang sudah berkeluarga dan juga punya anak, sekarang bapaknya ikut juga mengasuh anak. Padahal selama ini hanya isterinya saja yang mengurus anak-anak,” ujarnya.

Yang menarik, Kepala Desa Dandang, Haerudin, yang juga hadir sebagai pasangan GALS ikut menyampaikan bahwa pendekatan GALS ini sangat bisa diadopsi oleh pemerintah desa, bisa melalui PKK, Majelis Taklim, ataupun Dasa Wisma.

Tak hanya GALS, tetapi juga program lain yang telah dikembangkan oleh Wallacea, Save the Children, dan PT MARS, seperti perlindungan anak (PATBM), simpan-pinjam kelompok perempuan (VSLA), serta kelompok bisnis perempuan, haruslah tetap ada.

“Bahkan program-program tersebut mestinya harus dikembangkan secara berkesinambungan meskipun nanti program-program tersebut telah selesai dilaksanakan. “Program-program ini harus sustainable, atau berkelanjutan,” harap dia.

Hal ini sangat penting dilakukan agar para champion GALS dapat menjadi pelopor dalam upaya pencegahan dan penanganan kasus kekerarasan berbasis gender.

Pada kesempatan yang sama, Narasumber Workshop GALS, Suryani Sultan, yang merupakan perwakilan provinsi, mengatakan bahwa DP3A Dalduk-KB Sulsel memiliki beberapa program yang bisa disinergikan dengan pendekatan GALS.

“Program melalui pendekatan GALS ini tidak hanya dilakukan di Luwu Utara saja, tetapi juga sudah mulai dilakukan oleh daerah lain, sehingga program ini sudah selayaknya diterapkan,” pungkas Suryanarni Sultan.

Selain berbagi pengalaman dalam penerapan GALS di keluarga masing-masing, juga dilakukan pemetaan tentang aktor-aktor di tingkat desa, kecamatan, maupun kabupaten yang dapat berkontribusi terhadap pencegahan dan penanganan kekerasan berbasis gender. (Anw/LHr)