Oleh Daniel Somba, Mantan Kalem dan Aktivis Pemerhati Sosial.
Sebuah kontestasi politik, sekecil apa pun levelnya, selalu menjadi ujian paling sahih bagi kedewasaan kita berdemokrasi. Hari ini, ujian itu sedang berlangsung di Lembang Balla, Kecamatan Bittuang, Kabupaten Tana Toraja.
Sebuah wilayah yang tengah bersiap menyambut pesta demokrasi lokal bernama Pemilihan Kepala Lembang (Pilkalem).
Namun, ada sebuah anomali yang menggelitik nalar sehat kita. Bagaimana mungkin sebuah pesta yang belum resmi dimulai, aromanya sudah telanjur merebak dan membusuk?
Mari kita bedah faktanya. Hingga detik ini, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Lembang (DPML) Tana Toraja bahkan belum mengetuk palu. Belum ada tanggal pasti kapan pemungutan suara digelar, belum ada daftar calon tetap yang diumumkan, dan belum ada angka pasti jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT). Semuanya masih berada di fase persiapan, masih berselimut sunyi administrasi.
Namun ironisnya, di akar rumput, suasana justru sudah menghangat—bahkan sebelum genderang perang resmi dimulai, tensi politik kini mulai memanas. Sebelum pendaftaran calon rampung sepenuhnya, isu kampanye hitam, taktik saling menjatuhkan, dan upaya politik kotor dilaporkan sudah mulai berembus di tengah masyarakat.
Ini adalah taktik usang yang sayangnya selalu laku dan laris manis menjelang perebutan kekuasaan. Padahal, jika kita menengok ke belakang, mitigasi bukannya tidak dilakukan. Pada 28 September 2026 lalu, DPML bersama Bawaslu sudah duduk bersama untuk menggelar rapat konsolidasi.
Mereka memetakan potensi pelanggaran, mencoba membentengi integritas sejak dini. Namun rupanya, aturan di atas kertas sering kali kalah gesit dengan syahwat politik oknum di lapangan yang telanjur haus akan kekuasaan.
Sebuah kebenaran yang sering dilupakan para pemburu takhta: bahwa kontestasi lokal ini bukanlah ajang adu kekuatan. Ini bukan panggung adu kehebatan, apalagi tempat untuk memelihara kesombongan. Ini adalah proses pengabdian, dan segala-galanya ada di bawah kehendak Tuhan.
Masyarakat Lembang Balla hari ini ditantang untuk menjadi pemilih yang bijak. Ujiannya adalah tidak mudah terpancing oleh provokasi murahan, dan tetap menjaga kepala tetap dingin di tengah suhu politik yang mulai naik. Karena pada akhirnya, data yang valid adalah penawar terbaik bagi racun hoaks dan kampanye hitam.
Kita tentu berharap, Pilkalem Balla tidak dinodai oleh ambisi buta para pemburu jabatan. Sebab, sejarah selalu mencatat dengan tinta tebal: kekuasaan yang direbut dengan cara yang kotor, hanya akan menghasilkan kepemimpinan dengan moral yang lumpuh.(*)
OPINI: Menjaga Akal Sehat di Lembang Balla, Saat Syahwat Politik Dikotori Aturan Main










